Fri. Aug 29th, 2025

Provinsi NTB memiliki potensi tinggi sebagai destinasi ekowisata birdwatching, berkat iklim tropis dan letaknya strategis. Lombok, Sumbawa, dan 401 pulau kecil di sekitarnya menjadi persinggahan burung migran saat musim dingin belahan bumi utara dan selatan tiba.

Berdasarkan data Paruh Bengkok Indonesia, sekitar 300 jenis burung telah terdeteksi di NTB. Menariknya, sekitar 50 di antaranya merupakan burung migran, termasuk raptor dari Siberia dan China yang tiba sekitar bulan Oktober dan burung laut eksotis seperti petrel badai cokelat.

Kegiatan seperti Lombok Bird Walk di Pantai Ampenan memperlihatkan antusiasme publik terhadap pengamatan burung. Peserta dapat mencocokkan pengamatan langsung dengan referensi ilmiah, mendukung edukasi dan pemahaman konservasi yang lebih mendalam.

Selain itu, Taman Wisata Alam Gunung Tunak di Lombok memiliki keanekaragaman burung yang tinggi, menjadikannya lokasi potensial untuk ekowisata. Namun perlu diperhatikan secara serius perencanaan daya dukung agar kualitas lingkungan dan habitat tetap terjaga.

Contohnya dalam studi daya dukung di TWA Gunung Tunak, jalur pengamatan tertentu hanya mampu menampung puluhan hingga ratusan wisatawan per hari tanpa berdampak ekologis — data ini menjadi panduan penting untuk pengelolaan ekowisata birdwatching secara berkelanjutan.

TWA Kerandangan di Lombok Barat juga sudah menunjukkan potensi pariwisata burung—sekitar 56 jenis burung termasuk spesies terancam dan endemik, seperti Elang Flores dan Celepuk Rinjani, dapat ditemukan. Inisiatif lokal awalnya datang dari petugas yang menyadari bahwa burung liar justru bernilai lebih tinggi untuk ekowisata daripada menjadi target buru.

Para penggiat konservasi seperti Saleh Amin menekankan pentingnya menjaga ruang terbuka hijau dan habitat alami sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi pengembangan destinasi birdwatching. Hal ini juga penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan ketahanan lingkungan terhadap perubahan iklim.

Potensi ini selaras dengan visi pariwisata NTB yang inklusif dan berkelanjutan, memanfaatkan sektor ini sebagai pilar ekonomi lokal sekaligus mendorong kesadaran lingkungan. Kompetensi masyarakat lokal sebagai pemandu dan penyedia layanan ekowisata menjadi modal penting.

Namun tantangan nyata tetap ada, terutama terkait perubahan iklim yang menyebabkan pergeseran pola migrasi burung—gangguan pada musim berbunga, serangga, dan rantai makanan dapat mempengaruhi populasi burung di NTB. Oleh karena itu, pengelolaan ekowisata harus adaptif dan berbasis riset.

Jika dikelola dengan benar—dengan program wisata yang inklusif, konservasi habitat, edukasi, serta penerapan daya dukung lingkungan—NTB berpeluang jadi magnet bagi wisatawan minat khusus pengamatan burung dari dalam maupun luar negeri.

Secara keseluruhan, NTB semakin mengukuhkan diri sebagai destinasi ekowisata birdwatching yang potensial. Dengan pendekatan konservasi, partisipasi masyarakat, dan perencanaan yang matang, alam tropis NTB bisa menjadi rumah bagi para birdwatcher dan pelindung habitat burung migran secara bersamasama.

Baca: Malam Tahun Baru 2025 di Mataram Tertib Tanpa Festival Besar

By Torri