Probolinggo, Jawa Timur – Banjir bandang yang menghantam Desa Kaliacar, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, pada Rabu (5/2/2025) malam menyebabkan jalan utama yang menghubungkan Dusun Sumber Watu putus total. Akibatnya, sekitar 2.500 warga terisolasi dan kesulitan mengakses layanan dasar seperti pasar dan fasilitas kesehatan.
Bencana ini dipicu oleh derasnya hujan yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam. Sungai Rondoningo meluap, membawa material tanah, kayu, lumpur, dan batu besar yang merusak plengsengan, sehingga jalan utama ambrol dan menjadi tidak dapat dilalui.
Menurut Sekretaris Desa Kaliacar, Syamsul Arifin, jalan tersebut merupakan satu-satunya akses ke dusun. Begitu jalan ambrol, warga Desa Sumber Watu tak bisa keluar maupun masuk, termasuk anak-anak yang hendak bersekolah.
Aktivitas warga pun lumpuh total. Enam RT terpaksa hidup dengan keterbatasan akses dan menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga khawatir jika jalan tidak diperbaiki cepat, kondisi darurat ini bisa berlangsung lebih lama.
Sebagai solusi sementara, warga dan perangkat desa gotong royong membuat jalan darurat memanfaatkan lahan sawah. Jalan sepanjang sekitar 10 meter dan lebar 1,5 meter kini sedang dibangun agar aktivitas warga bisa kembali berjalan, meski secara terbatas.
Desa berharap Pemerintah Kabupaten Probolinggo segera turun tangan memperbaiki jalan yang rusak. Hingga kini, belum ada petugas atau tim teknis dari pemkab di lokasi. Desa meminta perhatian dan bantuan agar mobilitas masyarakat pulih secepat mungkin.
Kondisi serupa juga terjadi di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, di mana jembatan penghubung antar dusun di Kecamatan Matangnga putus akibat banjir. Empat dusun—Tapua, Pussendana, Sepang, dan Pamombong—terisolasi dan akses jalan lumpuh total, memengaruhi sekitar 800 jiwa.
Kepala Desa Tapua Ahmad menyatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kabupaten agar perbaikan segera dilakukan. Warga sangat mengharapkan akses cepat pulih supaya kehidupan sehari-hari dan ekonomi mereka bisa berjalan normal kembali.
Bencana longsor juga dialami di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Ruas jalan di Dusun Pelas, Desa Timbu, Kecamatan Cibal Barat terputus sejak Januari 2024 akibat longsor. Akses keluarmasuk dusun jadi lumpuh selama berbulan-bulan, tanpa respons pemerintah yang cukup cepat.
Warga di sana, seperti Ronal Paju, mengungkapkan keprihatinannya karena akses utama yang menghubungkan mereka ke pusat desa dan fasilitas publik terputus tanpa solusi yang jelas. Hingga kini, aksesibilitas masyarakat menjadi masalah berkepanjangan.
Sementara itu di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, jalur pantura wilayah Tapango terancam lumpuh karena abrasi sungai yang parah. Jalan penghubung lima desa kini terputus, mengancam ratusan hektare sawah dan kelangsungan ekonomi petani.
Hasilnya, sekitar 200 Kepala Keluarga kehilangan akses ke lahan pertanian mereka selama lebih dari tiga tahun. Jalur alternatif yang harus ditempuh jauh, membuat biaya angkut hasil tani menjadi sangat tinggi dan mengancam kelangsungan hidup petani.
Desa Tapango telah mengajukan permohonan bantuan ke Dinas Pekerjaan Umum dan BPBD provinsi untuk tanggul atau jalan alternatif. Namun hingga saat ini, realisasi bantuan belum juga terlaksana, sementara warga semakin terpuruk karena ekonomi mereka terganggu parah.
Dari berbagai kasus ini, terlihat jelas bahwa infrastruktur rural Indonesia sangat rawan terhadap bencana alam. Jika akses jalan dan jembatan putus, tidak hanya mobilitas warga terganggu, tapi ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan juga ikut lumpuh secara simultan.
Warga berharap pemerintah pusat dan daerah dapat mempercepat penanganan darurat serta membangun sistem pemulihan cepat untuk mencegah korban lebih banyak, serta menjaga kesinambungan aktivitas masyarakat di pelosok.
Baca: Kabupaten Lombok Utara Resmi Jadi Destinasi Wisata Olahraga