Bima, NTB – Perum Bulog Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mengumumkan keberhasilan menyerap 9.000 ton jagung pipilan kering dari petani lokal selama musim panen tahun 2025. Langkah ini menjadi upaya strategis pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan pakan ternak sekaligus menekan gejolak harga di tingkat petani.
Kepala Bulog NTB, Ahmad Syarif, mengatakan penyerapan dilakukan sejak April hingga awal Agustus 2025, dengan melibatkan petani dari Kabupaten Bima, Dompu, Sumbawa, dan Lombok Timur. “Kita memastikan jagung petani terserap optimal agar harga tetap menguntungkan bagi petani,” ujarnya, Kamis (7/8/2025).
Harga pembelian yang diterapkan Bulog berada pada kisaran Rp5.000–Rp5.300 per kilogram untuk jagung dengan kadar air maksimal 14 persen. Kebijakan ini merujuk pada Harga Acuan Pemerintah (HAP) guna melindungi petani dari praktik tengkulak yang sering membeli dengan harga lebih rendah.
Bulog memanfaatkan gudang penyimpanan strategis di Bima dan Dompu untuk menampung hasil panen. Jagung yang diserap selanjutnya akan disalurkan kepada industri pakan ternak dan program bantuan pakan bagi peternak kecil. Sebagian juga dialokasikan untuk cadangan pangan nasional.
Menurut data Dinas Pertanian NTB, produksi jagung tahun ini mencapai 1,5 juta ton pipilan kering, naik sekitar 7 persen dibanding tahun 2024. Kenaikan produksi ini dipicu oleh curah hujan yang relatif merata di awal tahun dan perluasan lahan tanam di beberapa kabupaten.
Namun, melimpahnya panen berpotensi menekan harga di tingkat petani jika penyerapan tidak cepat dilakukan. “Tanpa intervensi Bulog, harga bisa jatuh di bawah Rp4.000 per kilogram karena pasokan melimpah,” kata Kepala Dinas Pertanian NTB, Lalu Mulyadi.
Petani menyambut positif langkah Bulog ini. Abdul Rahman, petani jagung asal Sape, Bima, mengaku lega karena hasil panennya langsung dibeli dengan harga layak. “Kami tidak khawatir lagi harus menjual ke tengkulak dengan harga murah,” ujarnya.
Selain menjaga harga, penyerapan ini juga membantu industri pakan ternak yang sempat mengalami kelangkaan pasokan di awal tahun akibat keterlambatan impor. Jagung lokal yang diserap Bulog menjadi solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pabrik pakan di Jawa dan Sulawesi.
Kementerian Pertanian mendukung penuh kebijakan ini dan berencana memperluas skema penyerapan ke provinsi lain. Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi, mengatakan bahwa stabilisasi harga jagung juga berdampak pada harga daging ayam dan telur di pasar.
Dalam jangka panjang, Bulog berencana meningkatkan kapasitas gudang pengering jagung di NTB. Saat ini, hanya beberapa gudang yang memiliki fasilitas pengering mekanis, sehingga sebagian jagung masih harus dijemur manual, yang memakan waktu dan tergantung cuaca.
Bulog juga akan mendorong kemitraan langsung antara petani dan koperasi tani untuk mempercepat rantai distribusi. Sistem ini dinilai lebih efisien dibanding transaksi perorangan yang sering terkendala modal dan transportasi.
Meski penyerapan berjalan lancar, tantangan logistik masih menjadi pekerjaan rumah. Beberapa daerah sentra jagung berada jauh dari gudang Bulog, sehingga biaya transportasi menjadi cukup tinggi, terutama di wilayah perbukitan Bima dan Sumbawa.
Pemerintah provinsi berkomitmen membantu biaya distribusi melalui program subsidi angkutan hasil pertanian. Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, menegaskan bahwa jagung merupakan komoditas strategis daerah yang harus mendapatkan perlindungan maksimal.
Hingga akhir tahun, Bulog menargetkan total penyerapan jagung di NTB mencapai 12.000 ton. Target ini diharapkan mampu menyerap surplus produksi sekaligus memastikan ketersediaan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri.
Langkah Bulog ini juga dinilai sebagai bentuk nyata keberpihakan pada petani lokal di tengah fluktuasi harga pangan dunia. Dengan penyerapan yang konsisten, pendapatan petani terjaga, industri pakan ternak stabil, dan konsumen mendapat harga yang wajar.
Baca: Desa Sape Catat Rekor Panjang Tanpa Hujan Warga Mulai Krisis Air Bersih