Fri. Aug 29th, 2025

Bima, NTBBanjir bandang kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada Rabu (22/1/2025) malam, merendam ribuan rumah warga dan memutus akses antar desa. Hujan deras yang mengguyur sejak sore hari membuat Sungai Pela Parado dan beberapa aliran sungai lainnya meluap. Air dengan arus deras menghantam pemukiman, membuat warga panik menyelamatkan diri.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, banjir ini berdampak pada sedikitnya 2.413 rumah yang tersebar di delapan desa, antara lain Desa Sakuru, Baralau, Nisa, Parado Wane, dan Pela. Ketinggian air bervariasi antara 50 cm hingga lebih dari 1,5 meter di beberapa titik. Banyak rumah warga yang terendam hingga atap.

Kepala BPBD Kabupaten Bima, Bambang Hermawan, mengatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan tim gabungan untuk membantu evakuasi warga terdampak. Posko darurat dan dapur umum didirikan di sejumlah lokasi aman. “Prioritas kami adalah menyelamatkan warga, terutama anak-anak, lansia, dan perempuan hamil,” ujarnya. Proses evakuasi masih berlangsung hingga Kamis pagi.

Selain merendam rumah, banjir juga merusak fasilitas umum seperti sekolah, masjid, dan jembatan. Jalan penghubung antar desa di Kecamatan Parado dan Monta lumpuh total akibat tergerus arus. Beberapa kendaraan dilaporkan hanyut. Kerugian materi belum bisa diperkirakan secara pasti, namun dipastikan mencapai miliaran rupiah.

Warga yang mengungsi mengaku banjir datang sangat cepat. Siti Aminah, warga Desa Nisa, menuturkan bahwa hanya dalam waktu setengah jam, air sudah masuk ke dalam rumahnya. “Kami hanya sempat menyelamatkan pakaian dan dokumen penting. Perabot dan barang lainnya hanyut,” katanya sambil memeluk anaknya yang masih kecil.

Hujan lebat yang terjadi beberapa hari terakhir dipicu oleh sistem tekanan rendah di wilayah selatan Indonesia yang memicu peningkatan intensitas curah hujan di Nusa Tenggara Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mataram telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang untuk wilayah Bima.

Bupati Bima, Hj. Indah Damayanti Putri, mengimbau warga untuk tetap waspada dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika curah hujan kembali meningkat. “Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan BNPB untuk mengirimkan bantuan logistik, peralatan evakuasi, serta tim kesehatan,” ujar Bupati.

Relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan seperti PMI, Tagana, dan komunitas lokal turut membantu proses evakuasi. Mereka membagikan makanan siap saji, selimut, dan air bersih kepada warga di posko pengungsian. Tim medis juga melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencegah penyakit pasca-banjir seperti diare dan infeksi kulit.

Kondisi di lapangan diperparah dengan listrik padam di sebagian besar desa terdampak. PLN Bima memutus aliran listrik demi keamanan warga dan petugas. Perbaikan jaringan listrik akan dilakukan setelah air surut dan situasi dinyatakan aman.

Banjir bandang di Kabupaten Bima bukan kali pertama terjadi. Catatan BPBD menunjukkan bahwa setiap musim hujan, daerah-daerah di sekitar aliran Sungai Pela Parado dan Sungai Wera kerap mengalami luapan air. Faktor penyebab utama selain curah hujan tinggi adalah berkurangnya daerah resapan air akibat alih fungsi lahan dan pembukaan lahan di daerah hulu.

Pakar lingkungan Universitas Mataram, Dr. Zainal Abidin, menilai mitigasi bencana harus diperkuat melalui reboisasi hutan, pengendalian tata ruang, dan pembangunan infrastruktur penahan banjir. “Kalau hanya mengandalkan tanggap darurat, masalah ini akan berulang setiap tahun,” tegasnya.

Sementara itu, BPBD Bima mengingatkan bahwa musim hujan masih akan berlangsung hingga Maret 2025. Warga diminta untuk menyiapkan rencana evakuasi mandiri, menyimpan dokumen penting di tempat aman, dan selalu mengikuti informasi cuaca dari BMKG. Pihaknya juga membuka hotline darurat bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan cepat.

Hingga Kamis malam, sebagian wilayah masih tergenang dengan ketinggian air mencapai 80 cm. Proses penyaluran bantuan logistik terkendala akses jalan yang terputus. Tim SAR berencana menggunakan perahu karet untuk menyalurkan bantuan ke desa-desa yang terisolasi.

Meski situasi darurat masih berlangsung, semangat gotong royong warga Bima tetap tinggi. Banyak yang saling membantu membersihkan rumah, menyediakan tempat menginap, dan berbagi makanan dengan pengungsi. “Kami akan bangkit lagi, ini bukan pertama kali,” kata Hasanuddin, warga Desa Sakuru.

Pemerintah daerah berjanji akan menyalurkan bantuan dana untuk perbaikan rumah dan fasilitas umum setelah masa tanggap darurat selesai. Namun, warga berharap agar penanganan jangka panjang dilakukan serius agar banjir bandang tidak lagi menjadi “langganan” tahunan.

Baca: Lombok Tengah Raih Peringkat Tertinggi Penyelenggaraan Pemerintahan di NTB

By Torri