Sumbawa, NTB – Pulau Moyo, yang terletak di utara Pulau Sumbawa, kembali mencuri perhatian sebagai destinasi wisata terpencil dengan daya tarik global. Dari sejarah kunjungan Putri Diana hingga ekowisata kelas dunia, Moyo terus mengundang decak kagum dan mendesak perhatian serius untuk pengembangan berkelanjutan.
Sebagai kawasan konservasi yang ditetapkan sejak 1986, Pulau Moyo memiliki 22.460 hektare Taman Buru dan 6.000 hektare lautan yang dilindungi, menjadikannya warisan alam penting di kawasan Bali–Nusa Tenggara.
BKSDA NTB mengembangkan Pulau Moyo sebagai kawasan Taman Nasional bersama Pulau Satonda, dengan harapan menyerap ikon satwa seperti rusa Timorensis ke habitat baru yang alami—langkah penting dalam mendukung ekowisata.
Pulau ini pun mulai menjadi magnet wisatawan asing, khususnya dari Eropa. Dari sekitar 600 pengunjung mancanegara di 2023, kini kunjungan meningkat hingga lebih dari seribu pada 2024, didorong oleh E-luxury dan branding cerita Lady Diana.
Akses ke Moyo kini lebih mudah dengan penerangan dan internet 24 jam, serta tumbuhnya akomodasi seperti bungalow mulai harga Rp500 ribu per malam, menjadikannya destinasi eksklusif namun tetap hangat dan terjangkau.
Keanekaragaman alam Pulau Moyo sungguh kaya—ada 86 jenis burung, termasuk kakatua jambul kuning dan megapode khas Indonesia, serta satwa seperti macaque, rusa, dan 21 jenis kelelawar dalam kawasan Moyo Island Hunting Park.
Para penyelam juga melakukan upaya konservasi, seperti transplantasi terumbu karang oleh komunitas lokal dan Polairud Polda NTB, mendukung ekosistem laut dan menjadikan Moyo destinasi penyelaman berkelanjutan.
Untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat setempat, BKSDA NTB mendorong alternatif mata pencaharian berbasis jasa lingkungan—seperti ekowisata dan pengamatan burung—sebagai solusi menggantikan praktik membuka lahan baru yang merusak.
Namun, tantangan besar masih ada. Infrastruktur di Moyo masih minim: listrik hanya menyala malam hari dan akses telekomunikasi terbatas, kendala yang harus segera diatasi untuk mendukung pengembangan pariwisata.
Fasilitas imigrasi telah dibuka di Pulau Moyo untuk memudahkan wisatawan asing, ini menjadi sinyal kuat bahwa pulau ini ditargetkan berkembang seperti destinasi internasional lain seperti Labuan Bajo dan Gili Trawangan.
Secara keseluruhan, Pulau Moyo sedang berada di persimpangan penting antara pelestarian alam dan peluang wisata global. Dengan keunikan alam, sejarah internasional, dan potensi berkelanjutan, Moyo siap menjadi permata Indonesia yang bersinar di mata dunia—jika dikelola dengan hati dan strategi.
Baca: Kabupaten Sumbawa Targetkan 100.000 Wisatawan Pada 2025