Fri. Aug 29th, 2025

Bima, NTB – Desa Sape, Kabupaten Bima, mencatat rekor baru untuk periode tanpa hujan terpanjang dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat, wilayah ini telah mengalami kekeringan selama lebih dari 120 hari berturut-turut, sejak awal April hingga Agustus 2025.

Fenomena ini membuat warga setempat menghadapi krisis air bersih yang semakin parah. Sumur-sumur warga mulai mengering, sementara sumber mata air alami di beberapa dusun sudah tidak lagi mengalir. Kondisi ini memaksa sebagian warga harus berjalan hingga 5 kilometer untuk mendapatkan air.

Kepala BMKG Bima, Sri Mulyani, menjelaskan bahwa kemarau panjang di Sape disebabkan oleh anomali iklim dan pergeseran pola angin muson timur. “Curah hujan di bawah 20 milimeter per bulan selama empat bulan terakhir menandakan status kekeringan meteorologis ekstrem,” ujarnya, Kamis (7/8/2025).

Pemerintah Kabupaten Bima telah menetapkan status siaga darurat kekeringan untuk wilayah Sape dan sekitarnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki ke desa-desa terdampak setiap dua hari sekali.

Kepala Desa Sape, Abdul Karim, mengatakan kebutuhan air bersih warga saat ini mencapai 80.000 liter per hari. Namun, pasokan dari pemerintah baru mampu memenuhi sekitar 60 persen dari total kebutuhan tersebut. “Kami berharap ada tambahan armada dan pasokan dari provinsi,” ujarnya.

Krisis air bersih juga berdampak pada sektor pertanian. Lahan padi tadah hujan di Sape seluas lebih dari 200 hektare gagal panen karena kekurangan pasokan irigasi. Petani kini beralih menanam tanaman palawija yang lebih tahan kering, meski hasilnya belum memadai.

Sejumlah peternak pun mulai menjual hewan mereka lebih cepat dari rencana karena sulit mendapatkan pakan hijau. “Rumput di padang sudah habis. Terpaksa kami jual kambing dan sapi sebelum kurus,” kata Haris, seorang peternak di Dusun Oi Wonto.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bima memperingatkan potensi peningkatan kasus penyakit akibat kekurangan air bersih, seperti diare, infeksi kulit, dan penyakit saluran pernapasan. Mereka mulai mengirimkan tim medis keliling untuk memantau kondisi kesehatan warga.

Untuk mengatasi krisis jangka pendek, relawan dan organisasi masyarakat sipil menggalang dana guna membiayai sumur bor darurat di beberapa titik. Namun, proses pengeboran menghadapi kendala karena kedalaman air tanah di Sape mencapai lebih dari 50 meter.

BMKG memprediksi hujan baru akan turun pada akhir Oktober 2025, sehingga warga masih harus bertahan setidaknya dua bulan lagi. Pemerintah diminta mempercepat distribusi bantuan dan memperluas titik suplai air bersih agar semua warga terlayani.

Warga setempat berharap kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah untuk membangun sistem pengelolaan air yang lebih tangguh. “Kekeringan seperti ini bukan pertama kali. Kalau tidak ada perbaikan, tahun depan bisa terulang,” ujar H. Usman, tokoh masyarakat Desa Sape.

Sejumlah pakar lingkungan juga menyoroti perlunya rehabilitasi daerah tangkapan air dan penghijauan kembali kawasan perbukitan di sekitar Sape. Deforestasi dinilai memperburuk penurunan ketersediaan air tanah dan mempercepat siklus kekeringan.

Meski situasi sulit, warga tetap berupaya menjaga solidaritas. Mereka menerapkan sistem giliran mengambil air dari tangki bantuan dan mengatur penggunaan air sehemat mungkin untuk kebutuhan harian. “Air hanya untuk minum dan masak, mandi pun sekali sehari,” kata Mariam, ibu rumah tangga setempat.

Hingga berita ini diturunkan, BPBD Bima bersama relawan masih berkeliling menyalurkan bantuan air bersih. Namun, tantangan logistik, jumlah penduduk yang besar, dan medan yang sulit membuat upaya ini belum mampu menjangkau semua wilayah terdampak secara optimal.

Baca: Kejati Selidiki Dugaan Korupsi Proyek Masjid Agung Bima

By Torri