Fri. Aug 29th, 2025

Mataram, 18 Agustus 2025 – Upaya keras aparat penegak hukum bersama pemerintah daerah dalam menekan angka peredaran narkoba mulai menunjukkan hasil positif. Data terbaru Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB tahun 2025 mencatat adanya penurunan signifikan kasus narkoba dibandingkan dua tahun sebelumnya. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga memberi sinyal positif bagi dunia investasi di daerah.

Penurunan kasus narkoba sebesar 27 persen dalam kurun Januari–Juli 2025 dibanding periode yang sama tahun 2024 menjadi capaian penting. BNN NTB melaporkan hanya 312 kasus yang terungkap, turun dari 429 kasus tahun sebelumnya. Angka ini dinilai sebagai bukti nyata efektivitas program pencegahan, pemberdayaan masyarakat, serta operasi penindakan yang dilakukan secara konsisten.

Selain dari sisi penindakan, pendekatan persuasif juga terbukti efektif. Program desa bersih narkoba (Bersinar) yang digagas sejak 2022 kini mencakup lebih dari 80 desa di NTB. Melalui kegiatan edukasi, penyuluhan, hingga penguatan ekonomi alternatif, masyarakat diajak aktif melawan narkoba. Hasilnya, jumlah pengguna baru di kalangan remaja turun signifikan.

Ketua BNN NTB, Brigjen Pol I Gede Putra, menyatakan keberhasilan ini tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari aparat keamanan, tokoh agama, hingga lembaga pendidikan. “Kami menyadari bahwa pemberantasan narkoba bukan hanya soal penangkapan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat. NTB harus menjadi daerah yang sehat dan aman bagi generasi muda,” ujarnya.

Dampak positif dari tren penurunan ini juga dirasakan sektor ekonomi. Investor lokal maupun internasional menilai lingkungan bisnis di NTB semakin kondusif. Menurut data Dinas Penanaman Modal dan PTSP NTB, realisasi investasi semester pertama 2025 mencapai Rp 8,7 triliun, meningkat hampir 20 persen dari periode yang sama 2024.

Para pelaku usaha menilai keberhasilan menjaga stabilitas sosial, termasuk menekan peredaran narkoba, menjadi faktor penting dalam keputusan investasi. Sektor pariwisata, energi terbarukan, dan industri pengolahan kelautan menjadi tiga bidang yang paling mendapat aliran modal baru. Kondisi ini memperkuat NTB sebagai destinasi investasi yang prospektif.

Gubernur NTB, H. Lalu Gita Ariadi, menegaskan bahwa penurunan kasus narkoba harus dipertahankan dan menjadi momentum mempercepat pembangunan. “Investasi membutuhkan kepastian, dan keamanan masyarakat adalah fondasi utamanya. Dengan iklim yang semakin bersih dari narkoba, NTB bisa menampilkan diri sebagai daerah yang aman, sehat, sekaligus kompetitif,” jelasnya.

Sejumlah investor asing juga mulai menaruh perhatian serius. Perusahaan pariwisata asal Australia yang sedang membangun resort di Lombok Tengah menilai kondisi sosial yang stabil menjadi alasan mereka mempercepat realisasi proyek. Hal serupa juga diungkapkan investor Jepang di sektor energi surya, yang menyebut rendahnya kriminalitas terkait narkoba membuat operasional lebih efisien.

Sementara itu, tokoh masyarakat di Lombok Barat, TGH Ahmad Fadli, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, peredaran narkoba yang menurun akan mengurangi kerentanan sosial. “Kita harus jaga momentum ini. Kalau masyarakat sehat, pemuda terbebas dari narkoba, maka dunia usaha akan semakin yakin untuk berinvestasi,” katanya.

BNN NTB juga mencatat, angka rehabilitasi pecandu narkoba meningkat seiring penurunan kasus. Tahun 2025, lebih dari 600 pengguna menjalani program rehabilitasi, meningkat dari 430 orang pada 2024. Peningkatan ini menandakan adanya kesadaran baru di masyarakat untuk pulih, bukan sekadar menghindari hukum. Hal ini turut memperkuat citra NTB sebagai wilayah yang serius menanggulangi masalah narkoba.

Meski capaian positif sudah terlihat, tantangan tetap ada. Beberapa wilayah perbatasan laut di Sumbawa dan Bima masih rawan menjadi jalur masuk narkoba. Aparat menilai pengawasan laut harus lebih diperketat agar keberhasilan yang sudah diraih tidak tergerus oleh jaringan internasional. Penambahan sarana patroli laut dan kerja sama dengan TNI AL terus diperkuat.

Pengamat ekonomi dari Universitas Mataram, Dr. Rina Mardiani, menilai penurunan kasus narkoba sangat relevan dengan perkembangan iklim investasi. “Investor selalu melihat aspek keamanan. Jika angka kriminalitas, termasuk narkoba, bisa ditekan, maka kepercayaan untuk menanam modal akan meningkat. Ini terlihat jelas dari data realisasi investasi tahun ini,” ungkapnya.

Pemerintah pusat pun memberikan apresiasi kepada NTB. Deputi Bidang Koordinasi Kamtibmas Kemenko Polhukam dalam kunjungannya ke Mataram bulan lalu menyebut NTB sebagai contoh daerah yang berhasil mengaitkan program pemberantasan narkoba dengan strategi pembangunan ekonomi. Menurutnya, pendekatan ini bisa diadopsi daerah lain di Indonesia.

Ke depan, NTB menargetkan penurunan kasus narkoba hingga 50 persen pada 2027. Untuk mencapainya, pemerintah daerah bersama BNN akan memperluas program desa Bersinar, meningkatkan patroli laut, serta memperkuat regulasi investasi ramah lingkungan dan sehat. Dengan langkah ini, diharapkan NTB semakin menarik bagi investor dan aman bagi masyarakat.

Secara keseluruhan, penurunan kasus narkoba di NTB menjadi kabar baik yang berdampak luas, tidak hanya bagi kesehatan generasi muda, tetapi juga kepercayaan dunia usaha. Momentum ini perlu dijaga agar NTB dapat terus tumbuh sebagai provinsi yang aman, sehat, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

Baca: Lonjakan Infrastruktur & Kendaraan Listrik Transformasi Transportasi Hijau Kian Nyata

By Torri